Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pantai Sendang Biru

Written By Bluray Quality on Selasa, 24 April 2012 | 12.48

Selain Pantai Balekambang dan pantai di Pulau Sempu, ternyata Malang memiliki Pantai Sendang Biru yang tak kalah cantiknya. Jernihnya air laut menjadi daya tarik pantai ini. 

Oleh kebanyakan orang, Pantai Sendang Biru dikenal sebagai pintu masuk menuju Pulau Sempu. Namun, ternyata pantai ini memiliki pemandangan yang tidak kalah cantiknya dengan pantai-pantai di Jawa Timur. Nama Sendang Biru berasal dari bahasa Jawa, yaitu yang berarti sumber air yang berwarna biru. Ya, pantai ini memang dianugerahi air laut yang biru dan sangat jernih. 

Pantai Sendang Biru berada di Desa Sumber Agung, Kecamatan Sumbermanjing, Malang, Jawa Timur. Pantai ini persis terletak di seberang Pulau Sempu. Oleh karena itu, pantai ini digunakan sebagai pintu masuk menuju Pulau Sempu yang terkenal dengan kecantikannya. 

Selain digunakan sebagai 'jembatan' ke Pulau Sempu, Pantai Sendang Biru juga menjadi tempat pusat pelelangan ikan di Kota Malang. Walau begitu, objek wisata ini jauh dari kata kotor. Pemandangan di Pantai Sendang Biru sangat apik. Pasir putihnya yang bersih dan air lautnya yang biru jernih berkolaborasi menjadi pemandangan yang indah. Belum lagi warna-warni kapal nelayan yang terparkir rapi di tepi pantai. 

Nah, kapal tersebut ternyata tidak hanya digunakan nelayan sebagai transportasi mencari ikan saja. Namun juga disewakan untuk wisatawan. Anda bisa menyewa kapal tersebut untuk berkeliling di sekitar pantai. Biaya yang dipatok tidak terlalu mahal, hanya Rp 100.000 untuk kapal motor dan Rp 50.000 untuk kapal yang didayung. 


Di tengah laut, Anda bisa melihat ke bawah. Di sana pemandangan bawah laut jelas terlihat. Ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela karang membuat pengalaman Anda mengunjungi Pantai Sendang Biru tidak akan terlupakan. 

Di pantai ini masih ada adat yang selalu dijalankan oleh masyarakat setempat. Mereka akan menyeberangi laut menuju Pulau Sempu untuk mengambil air tawar yang dinilai keramat. Jika Anda ingin menyaksikan tradisi tersebut, datanglah ke Pantai Sendang Biru pada tanggal 7 dan 8 bulan Syawal.
12.48 | 0 komentar

Cahaya Surga di Gunung Kidul

Bagi Anda penyuka wisata yang bisa memacu adrenalin,  Gua Jomblang di Gunungkidul sudah tidak asing lagi. Selain caving, Anda juga bisa menyaksikan cahaya surga. Penasaran? 

Gua Jomblang terletak di Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta. Gua Jomblang merupakan salah satu dari ratusan goa di Kompleks Gua Gunungkidul. Karena keindahannya, gua ini sudah mulai terkenal hingga ke mancanegara. 

Sayangnya, untuk masuk ke dalam perut gua tidaklah mudah. Diperlukan kemampuan teknik tali tunggal atau yang lebih dikenal dengan nama single rope technique (SRT). Karena medannya yang cukup berbahaya, siapapun yang ingin masuk atau caving di Gua Jomblang wajib mengenakan alat standar keselamatan. 

Namun, jangan khawatir, Anda tentu saja akan didampingi oleh penelusur gua yang sudah handal dan berpengalaman. Jadi, Anda bisa sedikit tenang dalam menelusuri perut gua. 

Keberanian Anda akan diuji di sini. Untuk bisa sampai ke dasar gua, Anda harus menuruni tali kurang lebih 20 meter. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir, sebab alat keselamatan dan tim yang handal akan menemani penjelajahan Anda. 


Gua vertikal ini memiliki sebuah lorong sepanjang 300 meter. Di sepanjang lorong, terdapat ornamen gua yang sangat indah. Lorong tersebut akan mengantarkan Anda menuju subuah lubang besar di ujung gua yang bernama Gua Grubug. 

Nah, pancaran sinar yang masuk ke dalam gua tersebutlah yang menjadi pemandangan indah. Saking indahnya, sinar itu dinamakan cahaya surga. 

Penjelajahan Anda di dalam perut bumi kali ini pasti tidak akan terlupakan. Jangan lupa membawa kamera untuk dokumentasi. Ajak juga kerabat Anda, agar mereka tahu cantiknya alam Indonesia. 

12.39 | 0 komentar

5 Gunung Terunik di Indonesia

Indonesia terkenal dengan deretan pegunungan yang indah. Banyak di antaranya jadi tujuan pendakian gunung, tentunya dengan kesulitan yang berbeda-beda. Nah, 5 gunung ini tergolong 'berbahaya' untuk didaki, bahkan bagi yang profesional. 

Tiap gunung punya keunikan masing-masing. Ketinggian, struktur, vegetasi, hingga jalur menuju puncaknya pun bervariasi. Bersyukur Indonesia punya deretan gunung indah untuk didaki. Tapi, beberapa di antaranya memiliki jalur yang cukup ganas. Butuh pengetahuan dan profesionalitas tingkat tinggi untuk bisa melewati alam liarnya. 

Mendaki kelima gunung ini harus menggunakan jasa guide, atau minimal penduduk setempat yang hafal medan dan jalur. Tapi jika Anda termasuk pendaki yang berpengalaman, kelima gunung ini bisa jadi referensi untuk pendakian selanjutnya. Keindahannya menantang! 

1. Gunung Cartenz, Papua 

Mustahil rasanya gunung tertinggi di Indonesia termasuk mudah untuk didaki. Dengan ketinggian 4.884 mdpl, puncak Cartenz adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang diselimuti salju abadi. Udara dingin tentunya menjadi kendala utama. Di lerengnya saja, suhu bisa mencapai 10 derajat Celcius. Makin dekat dengan puncak, suhu bisa sampai 0 derajat Celcius! 

Tak heran hipotermia dan AMS (Acute Mountain Sickness alias sakit ketinggian) menjadi kendala utama dalam pendakian. Oksigen yang tipis membuat semua pendaki mudah lelah, serta mudah mengalami halusinasi dan pusing kepala. Tapi jika mencapai puncak Cartenz, berarti Anda berhasil menaklukkan satu dari Seven Summits. Ya, puncak Cartenz adalah salah satu dari tujuh titik tertinggi di dunia! 

2. Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan 

Sebagai gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan, Latimojong adalah gunung dengan kemegahan yang tak terelakkan. Gunung ini punya tujuh puncak, yang tertinggi bernama Rante Mario di ketinggian 3.680 mdpl. Medan yang dilewati cukup berat. Treknya curam, dan melewati hutan hujan nan lebat yang membuat kabut semakin pekat. Semakin mendaki, semakin udara dingin menusuk kulit. 

Terkadang Anda harus melewati derasnya sungai hanya dengan berjalan di atas kayu tipis di atasnya. Di beberapa titik, para pendaki juga harus meniti pinggiran jurang dan berpegangan erat pada akar-akar pohon. Jangan lupa pakai sarung tangan jika tak ingin terluka! Mencapai puncaknya butuh perjuangan ekstra keras. Setelah melewati beberapa bukit dan hutan lebat, Anda masih dihadapkan dengan tebing yang punya kemiringan ekstrim. Beberapa di antaranya mencapai 70 derajat! Oleh karena itu dibutuhkan beberapa peralatan separti tali-temali untuk bisa memanjatnya. 

3. Gunung Leuser, Nanggroe Aceh Darussalam 

Empat jalur yang ada di Gunung Leuser dibuka langsung oleh tim Wanadri. Satu di antara mereka meninggal ketika menyeberangi sungai yang luar biasa deras. Sepertinya hal ini cukup membuat banyak orang merasa Gunung Leuser punya kesulitan tingkat tinggi untuk didaki. 

Sebagai bagian Taman Nasional Gunung Leuser, puncak tertinggi gunung ini ada di ketinggian 3.404 mdpl. Untuk menuju puncaknya, dibutuhkan waktu 9-10 hari tergantung cuaca dan kondisi fisik pendaki. Dikali dua jika dihitung perjalanan pulang. Pun sebelum mencapai puncak, Anda harus melewati tujuh gunung lagi! Di hari ke-8 Anda akan tiba di Bipak Kaleng. Dinamakan begitu karena terdapat banyak kaleng bekas, sisa makanan yang didrop oleh helikopter bagi pendaki yang kehabisan perbekalan. Tapi tenang saja, dari sini, perjalanan 'hanya' 7-8 jam lagi menuju puncak. 

Mengutip situs Belantara Indonesia, mayoritas vegetasi di Gunung Leuser adalah hutan hujan dengan tingkat kerapatan dan kelembaban yang tinggi. Harimau dan badak Sumatera masih banyak ditemukan di sini. Karena medan yang membahayakan, para pendaki harus mengurus perizinan dari beberapa pihak termasuk Kapolres Aceh Tenggara, juga surat keterangan pendakian dan surat keterangan dokter. 

4. Gunung Raung, Jawa Timur 

Gunung Raung menduduki tiga wilayah yakni Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi. Puncaknya berada di ketinggian 3.332 mdpl, dilengkapi kaldera berbentuk lonjong dengan kedalaman sekitar 500 meter. Di awal pendakian, jalanan berkelok dengan kontur naik-turun hingga ketinggian sekitar 1.600 mdpl. Setelah itu, pendakian mulai sulit. Trek semakin terjal, dan jalur semakin sulit terlihat. Semak-semak pun tumbuh sangat lebat. 

Puncak Raung disebut 'Puncak Sejati'. Untuk mencapainya, para pendaki harus melakukan panjat tebing dengan tali-temali. Treknya sangat sulit, dengan jurang di sebelah kiri dan kanannya. Terlepas dari itu, Gunung Raung juga terkenal angker. Hal ini bisa dilihat dari nama-nama posnya, yaitu Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. 

5. Gunung Kerinci, Jambi 

Kerinci adalah gunung tertinggi di Sumatera, 3.805 mdpl. Gunung ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Trek awalnya cukup mudah, melewati ladang dan perkebunan punya penduduk setempat. Semakin mendaki, trek akan semakin terjal hingga akhirnya sangat curam. 

Yang juga menjadi kesulitan, yaitu larangan bagi pendaki untuk bermalam di ketinggian kurang dari 1.500 mdpl. Hal ini karena banyaknya binatang buas yang masih berkeliaran, seperti harimau Sumatera. Binatang-binatang ini akan menghindari udara dingin di malam hari, dan beristirahat di bawah ketinggian tersebut. Dengan trek yang terjal itu, hal ini tentunya menyulitkan para pendaki yang keletihan. 

Ketika tengah berkutat dengan trek terjal, angin dingin pun senantiasa menghampiri. Para pendaki pun jadi cepat lelah dan menggigil, membuat seluruh tubuh menjadi kaku. Tak jarang hujan es pun terjadi, sehingga hiportermia menjadi hal yang sangat mungkin terjadi.
12.25 | 0 komentar

inilah Pulau Terindah di Jepang

Di ujung selatan Jepang, terdapat Kepulauan Yaeyama yang indah dan perawan. Di antara semuanya, Pulau Hateruma adalah yang paling indah. Terpencil, tak ada keramaian, dan menyatu apik dengan birunya Samudera Pasifik. 

Ada perasaan terpencil ketika Anda menginjakkan kaki di pulau ini. Setelah disuguhi birunya lautan sepanjang perjalanan laut, Anda akan dihadapkan pada pantai landai berpasir putih. Di hadapan mata terbentang beberapa vegetasi: pohon beringin, bambu, juga bunga anggrek dan kembang sepatu. Semakin Anda berjalan, wangi bunga-bunga itu semakin kentara. 

Anggaplah ini sebagai ucapan selamat datang dari Pulau Hateruma, Kepulauan Yaeyama, Jepang. Ini adalah wilayah Jepang yang bernuansa tropis. 

Semua keindahan alam seakan menyatu di pulau ini. Bila memandang laut lepas, gradasi biru muda dan biru muda tampak sangat kontras. Warna biru satu lagi dihasilkan oleh langit cerah, dengan awan putih yang mengambang di udara. Tanpa suara, tanpa resor, tanpa restoran, tanpa pesta pantai, dan tanpa kerumunan orang. 

Tak heran Hateruma didaulat sebagai pulau paling indah di Jepang. Hateruma pun didaulat masuk ke dalam 501 Must-Visit Islands versi Bounty Books. 

Walaupun tak tampak sedikit pun kehidupan, Pulau Hateruma juga punya penduduk. Mereka berkumpul di tengah pulau, mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Beberapa di antaranya juga berkebun tebu, dan memproduksi minuman alkohol bernilai ekonomis tinggi bernama Awanami. 

Berlarilah di atas pasir pantai yang halus seperti bedak. Ambillah snorkel Anda, dan berenanglah di lautan jernihnya. Terumbu karang warna-warni yang sangat indah akan langsung menyambut Anda. Tak ketinggalan, ikan-ikan tropis warna pelangi yang hilir mudik di sekitarnya. 

Jika ingin menikmati panorama lautan, Pantai Nishi adalah tempat yang tepat. Selaras dengan pulaunya, Nishi juga didaulat sebagai pantai terindah di Jepang. Anda bisa memandang laut lepas sambil duduk-duduk di bawah pohon rindang. Yang terdengar hanya bunyi deburan ombak, dan angin yang menyatu dengan gemerisik dedaunan. 


Selain panorama darat dan lautnya, Hateruma juga tersohor karena panorama langitnya. Ya, Hateruma adalah salah satu tempat terindah untuk melihat bintang, terutama karena letaknya jauh dari polusi. Oleh karena itu, waktu terbaik untuk datang ke pulau ini adalah bulan Desember-Juni, ketika ribuan bintang sedang gemar bersinar. 

Tak sulit untuk menyambangi pulau terindah di Jepang ini. Anda bisa melakukan penerbangan dari kota-kota besar seperti Tokyo dan Kyoto menuju Pulau Ishigaki. Setelah itu, perjalanan akan dilanjutkan dengan ferry langsung menuju Hateruma.
11.51 | 0 komentar

Keunikan Candi Balah Laut Bali

Pada 2010 lalu, dunia sempat geger karena penemuan candi bawah air di Teluk Pemuteran, sebelah utara Pulau Bali. Tapi rupanya, bangunan candi ini sengaja ditenggelamkan dalam upaya konservasi alam. Unik! 

Dunia sempat geger karena penemuan candi di perairan sekitar Pulau Bali pada tahun 2010 lalu. Bahkan, beberapa orang berprediksi tempat itu adalah peninggalan Atlantis. Foto candi di dasar laut itu menyebar lewat jejaring sosial Twitter. Tapi, keraguan mulai muncul ketika candi yang terbuat dari batu itu terlihat utuh, tidak terkorosi. 

Rupanya, bangunan candi yang berada di bawah air ini merupakan upaya sekelompok penggiat lingkungan dalam rangka konservasi alam bawah air Pulau Bali. Mulai tahun 2000, berbagai benda seni pun ditenggelamkan di Teluk Pemuteran, yang berada di sebelah utara pulau ini. 

Nama lokasi ini adalah Taman Pura. Menyelam di sini, Anda akan menemukan patung-patung Buddha dan Ganesha, gapura, serta tiang-tiang yang terbuat dari batu candi. Semua benda seni ini dibeli langsung dari pengrajin setempat. Tujuannya untuk konservasi terumbu karang serta ekosistem fauna yang hidup di sana. 


Proyek ini melibatkan beberapa pemilik hotel, nelayan, jasa agen penyelaman, ilmuwan, serta penggiat konservasi lingkungan. Selain untuk tujuan konservasi, proyek ini juga punya nilai ekonomi dan pariwisata. Dampak positif pun didapatkan oleh pengrajin setempat. 

Walaupun Taman Pura bukan proyek yang terhitung baru, namun tak banyak orang yang tahu akan hal ini. Padahal, Taman Pura masuk dalam Top 10 Underwater Sights dalam buku "Lonely Planet: 1000 Ultimate Sights". 

Anda bisa menyambangi candi bawah air ini lewat jasa agen penyelaman yang tersebar di Kabupaten Buleleng. Sekarang, benda-benda seni itu berhasil tertutup oleh koral warna-warni. Tambah meriah lagi dengan gerombolan ikan koral warna pelangi. Taman Pura adalah konservasi alam berbalut nilai seni yang tinggi.
11.30 | 0 komentar

Danau Mirip Cermin Raksasa

Di Kalimantan Timur, terdapat suatu tempat yang menyerupai cermin raksasa. Tempat itu adalah Danau Labuan Cermin, yang akan membuat Anda takjub. Airnya biru jernih, seolah memantulkan setiap bayangan yang ada di atasnya. 

Danau Labuan Cermin seolah menjadi harta karun yang tersembunyi. Tidak banyak traveler yang mengetahui tempat ini, tetapi keindahann danau yang seperti cermin raksasa tidak dapat dipungkiri. 

Danau ini terletak di Desa Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Untuk mencapai danau ini, diperlukan waktu sekitar 20-24 jam perjalanan darat dari Samarinda, atau melalui jalur udara dari Bandara Sepinggan, Balikpapan menuju Bandara Tanjung Redeb, lalu dilanjutkan 6 jam perjalanan darat. Cukup melelahkan memang, tetapi keindahannya akan membuat impas. 

Sebelum mencapai Danau Labuan Cermin, Anda harus trekking menelusuri hutan selama 30-45 menit. Hutan yang sangat liar dan menantang. Anda akan menjumpai pepohonan yang rimbun dan satwa-satwa liar seperti monyet, babi hutan, burung, owa-owa dan beruang madu. Perjalanan yang mendebarkan. 

Setibanya di Danau Labuan Cermin, hamparan air yang berwarna biru akan mengundang decak kagum. Sungguh, pemandangan yang sulit didapatkan dimana pun. Danau yang luas, air yang berwana biru nan jernih, dan pepohonan hijau di sekililingnya, seolah membawa Anda ke dunia lain. Tidak hanya itu, danau ini seperti cermin raksasa yang memantulkan bayangan benda apa pun di sekitarnya. 


Siapkan diri Anda untuk diving, snorkeling, dan berenang. Airnya sangat dingin, jernih, dan segar. Keindahan biota lautnya jangan dipertanyakan. Tumbuh-tumbuhan air, ikan-ikan yang cantik dan batu-batuan alami di dalam air membuat Anda seolah berada di mimpi. 

Tidak hanya itu, ternyata danau ini merupakan campuran dari air tawar dan air laut. Hal ini akan terbukti saat Anda menyelam dan merasakan gelembung-gelembung air dan beberapa titik-titik yang hangat. Itulah titik batas antara air laut dan air tawar. 

Anda harus membawa peralatan snorkeling sendiri, karena belum terdapat penyewaan alat-alat snorkeling. Namun, semua itu tidak dapat memudarkan keindahan dan kecantikan Danau Labuan Cermin. 

Perjalanan 20 jam, seolah tidak ada artinya saat Anda menikmati keindahan Danau Labuan Cermin. Selamat menikmati 'cermin raksasa'!
11.07 | 0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.

Categories

Followers